Monday, November 30, 2009

"BUDAYA di INDONESIA"





Salah satu dari alat musik tradisional tanah air kita yaitu rebana. Rebana merupakan alat musik yag dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh. Memukul atau menabuhnya menggunakan telapak tangan. Ketika kita memainkannya, kita dituntut untuk memiliki kepekaan rasa dan irama dong tentunya.^^Kita harus tahu kapan memukul keras dan kapan memukul pelan. Kita juga harus paham bagaimana cara menghasilkan suara keras dan bagaimana menghasilkan suara pelan.
Memainkan rebana erat kaitannya dengan keagamaan, dalam hal ini agama Islam. Musik rebana biasa dimainkan pada acara-acara keagamaan, misalnya musik pembuka menjelang acara pengajian dan musik penjemput calon besan atau pengantin pria.

Dilihat dari jenis kelamin para pemainnya, musik rebana ada dua macam. Jenis pertama adalah musik rebana yang dimainkan oleh perempuan. Perempuan mendominasi pagelaran ini, meskipun tidak menutup kemungkinan dibantu oleh beberapa pemain pria. Jenis musiknya diantaranya adalah qasidah. Lagu-lagu yang dilantunkannya adalah lagu-lagu yang bernuansa Islami.

Jenis musik rebana yang kedua adalah rebana yang berpersonil pria. Semua personil yang terlibat di dalamnya adalah pria. Salah satu jenis musik rebana ini bernama terebang. Para penabuh rebana menabuh sambil duduk, termasuk penyanyinya. Akan tetapi, ada juga yang dilengkapi denagn tarian. tariannya dibawakan oleh pria. Salah satu tarian yang biasa disajikan adalah Tari Zapin dari Riau.

Nah, itu tadi penggambaran sekilas tentang tari rebana. Mudah-mudahan artikel ini dapat menambah wawasan saudara tentang kebudayaan tanah air yang kita cintai ini yaitu Indonesia.__^^ Hey..Baca juga tentang Sawer Penganten, Candi Prambanan, Upacara Adat Mantun, Musik Keroncong, Upacara Kasada, dan lain-lain.

Saturday, November 28, 2009

"BUDAYA di INDONESIA"

http://www.tatv.co.id/files/program/keroncong.jpg



Keroncong?Musik apaan ini?^^. Keroncong merupakan musik yang dibawa oleh pelaut Portugis. Walaupun pertama kali dibawa ke Indonesia Timur, keroncong lebih berkembang di Jakarta, tepatnya di daerah Tugu, Tanjung Priok. Alat Musik dalam keroncong adalah ukulele, cak(banjo), gitar, biola, selo, bass, mandolin, flute (seruling), dan alat perkusi kecil seperti tamborin dan triangle. Ukulele yang berbunyi crong-crong-crong, menyebabkan jenis musik ini disebut keroncong.

Musik keroncong memiliki beberapa variasi. selain bentuk asli, dikenal juga keroncong langgam dan keroncong stambul. Keroncong stambul merupakan keroncong yang digunakan dalam pertunjukan drama stambul.

Contoh lagu keroncong asli adalah Kr. Sapu Lidi dan Kr. Tugu. Keroncong langgam yang terkenal adalah Bengawan Solo dan Rangkaian Melati, sedangkan contoh keroncong stambul adalah stambul japang dari cerita si Jampang.

Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah Jepang karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki "Buaya Keroncong" oleh insan keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong. Gesang menyebut irama keroncong pada MASA STAMBUL (1880-1920), yang berkembang di Jakarta (Tugu , Kemayoran, dan Gambir) sebagai Keroncong Cepat; sedangkan setelah ousat perkembangan pindah ke Solo (MASA KERONCONG ABADI: 1920-1960) iramanya menjadi lebih lambat.


Di sisi lain nama Anjar Any (Solo, pencipta Langgam Jawa lebih dari 2000 lagu yang meninggal tahun 2008) juga mempunyai andil dalam keroncong untuk Langgam Jawa beserta Waljinah (Solo), sedangkan R. Pirngadie (Jakarta) untuk Keroncong Beat, Manthous (Gunung Kidul, Yogyakarta) untuk Campursari dan Koes Plus (Solo/Jakarta) untuk Keroncobg Rock, serta Didi Kempot (Ngawi) untuk Congdut.

Pada dasarnya musik keroncong merupakan musik yang dibawa oleh bangsa lain Portugis) ke Indonesia, kemudian mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan kebudayaan yang ada di Indonesia ini. Semoga artikel ini dapat memberi manfaat bagi saudara semuanya.^^ Ehm...Baca juga tentang Sawer Penganten, Candi Prambanan, Rebana, Upacara Adat Mantun, Upacara Kasada, dan lain-lain.


"BUDAYA di INDONESIA"



Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentunya kita mengenal Candi Prambanan dong....^^

Candi ini mulai dibangun pada masa Rakai Pikatan dan diselesaikan pada masa Rakai Balitung yang memerintah pada tahun 898-910 Masehi. Rakai Pikatan dan Rakai Balitung adalah raja di kerajaan Mataram Kuno. Keduanya berasal dari Dinasti Sanjaya. Candi Prambanan terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Candi Prambanan merupakan tempat suci umat Hindu. Candi itu dipakai untu memuja para dewa. Menurut ajaran agama Hindu, ada tiga dewa, yaitu Dewa Brahma sebagai pencipta alam, Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam, dan Dewa Siwa sebagai perusak alam. Ketiga dewa itu disebut Trimurti.

Candi Prambanan terkenal dengan sebutan Candi Loro Jonggrang. Nama itu diambil dari legenda atau cerita rakyat kuno. Cerita itu mengisahkan Loro Jonggrang dengan Bandung Bondowoso. Itulah sekilas tentang sejarah Candi Prambanan, semoga dapat menambah wawasan Nusantara saudara__^^

Yupz...itu dia sekilas tentang Candi Prambanan, semoga saja artikel ini dapat menambah wawasan saudara tentang budaya yang ada di Indonesia ini. Oiya,,, Baca juga tentang Sawer Penganten, Upacara Adat Mantun, Rebana, Musik Keroncong, Upacara Kasada, dan lain-lain.

Thursday, November 26, 2009

"KEHIDUPAN SOSIAL/ADAT ISTIADAT"

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXOwU0gf4gNXX4v5-BWquH0GOorlaF_VcQ5P6P60a45H_MI5PTah4Atfq6mUJMmwztwf7116YC9aPDTzkUjHDgtabvIxzBufg-W7rN23IMlKL7arNYtD_9ZUI5xASty6gQI_LZF3zHJKIc/s400/Sawer+panganten.jpg


Ehm...sawer pengantin?disawer pake apa yah....^^. Sawer penganten merupakan upacara adat khas sunda. Upacara adat ini terdiri dari enam rangkaian proses, yaitu: nyawer, meuleum harupat (membakar harupat), ninjag endog (menginjak telur), ngaleupaskeun japati (melepaskan burung dara), huap lingkung, dan pabetot bakakak.

Nyawer merupakan upacara dimana para orang tua memberi nasihat kepada kedua penganten atau mempelai tersebut. Nyawer dilakukan setelah akad nikah dan dilakukan di teras rumah atau halaman. Kedua orang tua menyawer penganten dengan memakai kerudung. Saweran dilakukan dengan menggunakan uang logam, beras, permen, dan irisan kunyit tipis yang diletakan di bokor. Kedua mempelai duduk berdampingan dengan diiringi payung, seiring kidung selesai di lantunkan, isi bokor ditabur, hadirin yang menyaksikan berebut memunguti uang receh tersebut beserta permennya. Nyawer melambangkan mempelai beserta keluarga berbagi rejeki dan kebahagiaan.

Meuleum harupat adalah salah satu dari rangkaian upacara nyawer dimana kedua mempelai memegang batang harupat, sementara pengantin wanitanya menyalakannya dengan lilin kemudian memasukannya ke dalam sebuah kendi kecil berisi air yang dipegang oleh mempelai wanita, diangkat kembali dan dipatahkan lalu dibuang jauh. Ini melambangkan kebersamaan dalam memecahkan suatu masalah dalam rumah tangga. Fungsi isteri dengan memegang kendi berisi air adalah untuk mendinginkan setiap masalah yang menghampiri suami.

Ninjag endog merupakan upacara dimana sang mempelai pria menginjak telur yang diatasnya ada papan dan batang bambu muda atau sering disebut dengan elekan, kemudian mempelai wanita membersihkan kaki mempelai pria tersebut dengan air di kendi, lalu dikeringkan menggunakan kain lap kemudian kendi tersebut dipecahkan berdua.Ini melambangkan pengabdian isteri kepada suaminya.

Kemudian Rangkain upacara yang berikutnya adalah upacara ngaleupaskeun japati.Ibu kedua mempelai berjalan keluar sambil masing-masing membawa burung dara yang kemudian dilepaskan terbang di halaman.Melambangkan bahwa peran orang tua sudah berakhir hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

Huap lingkung merupakan upacara dimana pasangan mempelai disuapi oleh kedua orang tua, dimulai oleh kedua Ibunya yang dilanjutkan oleh kedua Ayahnya. Kedua mempelai saling menyuapi, Tersedia 7 bulatan nasi punar ( Nasi ketan kuning ) diatas piring. Saling menyuap melalui bahu masing masing kemudian satu bulatan di perebutkan keduanya untuk kemudian dibelah dua dan disuapkan kepada pasangan .Melambangkan suapan terakhir dari orang tua karena setelah berkeluarga, kedua anak mereka harus mencari sendiri sumber kebutuhan hidup mereka dan juga menandakan bahwa kasih sayang kedua orang tua terhadap anak dan menantu itu sama besarnya.

Dan upacara yang terakhir adalah upacara pabetot bakakak. Upacara bakakak adalah upacara dimana kedua mempelai duduk berhadapan sambil tangan kanan mereka memegang kedua paha ayam bakakak di atas meja, kemudian pemandu acara memberi aba-aba , kedua mempelai serentak menarik bakakak ayam tersebut hingga terbelah. Yang mendapat bagian terbesar, harus membagi dengan pasangannya dengan cara digigit bersama. Melambangkan bahwa berapapun rejeki yang didapat, harus dibagi berdua dan dinikmati bersama.

Itulah sedikit gambaran tentang adat-istiadat bangsa Indonesia khususnya disini adalah adat-istiadat pernikahan suku bangsa sunda, semoga artikel ini dapat memberi manfaat bagi anda semua, ehm...tentunya bagi anda orang sunda yang mau menikah tetapi lupa adat pernikahan anda...hehehe...^^

Friday, November 13, 2009

"KEHIDUPAN SOSIAL/ADAT ISTIADAT"

http://museumalatmusik.files.wordpress.com

"UPACARA ADAT MANTUN"


Upacara adat mantun dilakukan pada waktu padi diladang mulai berubah menjadi buah/Celetu.Upacara ini dilakukan oleh Kokolot Lembur/Tokoh Masyarakat dengan memainkan alat Pantun ( Kecapi ) dan Rendo (sejenis alat musik yang dimainkannya dengan cara digesek ) sambil membawakan cerita dalam bentuk yang dinyanyikan dengan nada Marenggo, dengan harapan untuk mendapatkan berkah dan padinya selamat dari gangguan hama padi sehingga hasil panen padinya banyak, penuturan kata-kata pantunnya antara lain :

“Jauh dijugjug mapay-mapay jurang malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, nyamuni ditempat suni, jauh teu puguh nu dijugjug, katempat anggang teu puguh nu rek diteang, ngajauhan lara heung wiring tina perang, panasna sarengenge, tiisna ciibun, nambahan geterna hate sumarabah kana bayah, kasurung kuniat anu geus nekad, ngalangkang kalangkang katukang jadi angan-anganjeung datangna harepan jeung kayakinan tinu ngatur sakabeh alam anu ngusikeun anu malikeun “

Yang artinya: berjalan jauh tak menentu tujuan, melewati tebing melintasi jurang yang terjal,berlindung ditempat yang sunyi dibalik gunung, menjauhi rasa malu dari kekalahaan perang, panasnya matahari, dinginnya embun pagi, menambah semangaat dan tekad , terbayang-bayang bayangan yang telah silam, yang telah jadi angan-angan dan dengan datangnya suaatu harapan serta keyakinan dari yang memiliki Alam semesta yang berhak ataas segalanya.

Nah itu dia sekilas tentang upacara mantun yang dilakukan oleh suku bangsa Baduy.Sebenernya pantun yang diucapkan pada acara tersebut merupakan amanat Pusaka untuk diresapi serta ditaati (ya walaupun tersirat) dan harus diingat secara turun temurun sehingga tidak tergoyah oleh keadaan dan situasi sekalipun di dunia ini sudah penuh dengan kemajuan modernisasi.

Suku Baduy yang ada di luar kawasan baduy pun masih melaksanakan upacara mantun ini, tetapi biasanya mereka memanggil Kokolot lembur dar daerah asalnya tersebut. Baca juga tentang Sawer Penganten, Candi Prambanan, Rebana, Musik Keroncong, Upacara Kasada, dan lain-lain.

"KEHIDUPAN SOSIAL/ADAT ISTIADAT"

(http://wilayahindonesia.blogdetik.com/files/2009/09/kasdabromo.jpg)


"ADAT-ISTIADAT DI INDONESIA"


Membicarakan masalah kehidupan sosial di Indonesia pasti ga akan selesai bila kita bicarakan cuma sehari saja kali ya...ko Indonesia itu terdiri dari banyak suku bangsa, agama, ras, adat-istiadat, budaya, dan sebagainya. Hehehe...karena terlalu banyaknya maka kali ini saya menceritakan satu saja dulu tentang kehidupan sosial atau adat-istiadat di Indonesia, yaitu tentang upacara kasada.

Upacara kasada merupakan salah satu upacara keagamaan penganut Hindu-Bromo(tau gunung Bromo kan?). Masyarakat sekitar gunung Bromo masih banyak yang mempercayai tentang adanya kekuatan yang disebut kasektan dan juga roh-roh halus yang ada di sekitar lingkungannya, sehingga untuk terhindar dari gangguan roh halus tersebut (mencapai kesuksesan) harus berpuasa, prihatin, berpantang, mengadakan selamatan dan memberikan sesaji serta melakukan upacara-upacara kegamaan seperti upacara kasada berikut contohnya.
Upacara kasada dilakukan oleh masyarakat sekitar Gunung Bromo karena katanya dulu ada dewa yang marah kemudian menjilat seorang anak bungsu hingga ia masuk kekawah gunung tersebut. Marahnya dewa tersebut dipicu oleh karena ada seorang perempuan yang bernama Roro Anteng yang hidup pada zaman Dinasti Brawijaya dari kerajaan Majapahit yang telah mengadakan perjanjian dengan dewa tersebut dimana perjanjian adalah dewa akan memberikan seorang anak bungsu, tetapi setelah mereka dikarunia 25 anak harus mengorbankan anaknya yang bungsu. Karena Roro Anteng tidak tega mengorbankan anaknya maka marahlah sang dewa tersebut. Setelah anaknya tersebut jatuh ke kawah Gunung Bromo maka timbul suara dari si anak bungsu tersebut agar orang tuanya hidup tenang beserta saudara-saudaranya. Tiap tahun masyarakat sekitar Gunung Bromo melakukan sesaji yang di buang ke gunung tersebut. Sampai sekarang adat-istiadat ini dilakukan secara turun-temurun.

Itulah sedikit tentang kisah-kasih orang tua yang berani menanggung resiko apapun demi seorang anak. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi saudara dan juga menambah pengetahuan saudara tentang adat-istiadat yang ada di Indonesia ini. Ehm... Baca juga tentang Sawer Penganten, Candi Prambanan, Rebana, Musik Keroncong, Upacara Adat Mantun, dan lain-lain.